fbpx Press "Enter" to skip to content

Tidak sembarang orang bisa berfatwa

Kemajuan teknologi mempermudah manusia dalam banyak hal. Sesuatu yang dahulu memerlukan waktu lama untuk menyelesaikannya, pada masa kini menjadi lebih sebentar penyelesaiannya, sehingga manusia bisa beralih kepada kegiatan lain yang masih perlu dikerjakannya. Pada zaman dengan tuntutan serba instan, ada beberapa hal yang tidak bisa menjadi instan, salah satunya yaitu menjadi ulama dalam bidang agama, yang kami bahas dalam dalam artikel ini khusus ulama dalam madzhab Syi’ah Imamiyah.

Perlu puluhan tahun bagi seseorang untuk mendapatkan gelar dan wewenang ulama ‘paket komplit’ . Ulama ‘paket komplit’ ini dikenal dengan sebutan mujtahid mutlaq atau mujtahid mustaqil jika dalam sunni atau marja agung [ayatullah uzhma] kalau dalam syi’ah imamiyah ushuliyah atau ahli hadits, mufti, qadi, dan hukama jika dalam syi’ah imamiyah akhbariyah.

Salah satu kaidah umum dalam fiqih Syi’ah Imamiyah Ushuliyah sebagaimana yang tercantum dalam risalah-risalah ‘amaliyah para marja’ adalah:

يجب على كل مكلف لم يبلغ رتبة الاجتهاد، أن يكون في جميع عباداته، ومعاملاته، وسائر أفعاله، وتروكه: مقلدا، أو محتاطا

“Wajib bagi mukalaf yang belum sampai kepada derajat al-ijtihad, dalam seluruh ibadahnya, mu’amalahnya, dan seluruh perbuatannya, dan apa-apa yang ditinggalkannya untuk taqlid atau muhtath..”

عمل العامي بلا تقليد ولا احتياط باطل

“Beramalnya orang awam dengan tanpa taqlid atau tanpa ihtiyath itu adalah batal…”

Nah jadi dalam ushuli tidak sembarangan orang bisa berfatwa atau menyimpulkan hukum fiqih, tidak bisa hanya tahu satu, dua, atau bahkan puluhan hadits kemudian langsung bisa berfatwa. Untuk berfatwa dalam urusan fiqih bagi ushuliyah itu mesti sampai derajat mujtahid. Jadi apapun gelarnya dalam masyarakat, entah itu habib, ustadz, doktor, kyai, masyayikh, dan lain-lain kalau belum sampai derajat mujtahid maka tidak bisa dan tidak boleh berfatwa. Sebaiknya apapun gelarnya dalam masyarakat, apakah dia azam, mirza, umum, non-sayyid, non-syarif kalau sudah sampai derajat mujtahid maka boleh berfatwa.

Salah satu uraian yang bagus dari Sayyid Shadiq Asy-syirazi dalam kitab Bayannya mengenai hal tersebut :

والتقليد فيما نحن فيه كما يأتي هو: عبارة عن عمل العامي في الاحكام الشرعية بفتوى العالم بها، استناداً إلى استنباط العالم من الادلّة الشرعية، لا استناداً إلى نفس الادلّة.

“Taqlid dari apa yang kami bahas adalah beramalnya orang awam dalam hukum-hukum syari’at dengan fatwa orang yang ‘alim terhadap hukum-hukum syari’at, kemudian orang awam tersebut mensanadkan amalannya dalam hukum-hukum syari’at kepada istinbath ‘alim  daripada dalil-dalil syari’ at, tidaklah mensanadkan diri langsung kepada dalil”.

Dalam Syiah Imamiyah Akhbariyah ada kaidah utama yang menjadi pegangan dalam urusan siapa yang berhak berfatwa dalam agama yaitu kaidah yang disarikan dari sabda para makshum diantaranya yaitu dua sabda dari Imam Ja’far Shadiq dalam Al-kafi:

انظروا إلى رجل منكم يعلم شيئا من قضائنا فاجعلوه بينكم فإني قد جعلته قاضيا فتحاكموا إليه.

“Perhatikanlah oleh kalian kepada seseorang daripada kalian yang mengetahui sesuatu daripada ketetapan-ketetapan kami, maka jadikanlah dia qadhi diantara kalian, sesungguhnya aku telah menjadikannya qadhi, maka merujuklah mengenai urusan hukum kepadanya”

انظروا إلى من كان منكم قد روى حديثنا ونظر في حلالنا وحرامنا وعرف أحكامنا فارضوا به حكما فإني قد جعلته عليكم حاكما

“Perhatikanlah oleh kalian kepada seseorang daripada kalian yang meriwayatkan hadits kami, dan نظر di dalam apa-apa yang kami halalkan dan apa-apa yang kami haramkan, dan عىف hukum-hukum kami, merujuklah kalian dengannya mengenai hukum, sesungguhnya aku telah menjadikannya hakim atas kalian”

Jadi dalam akhbari juga tidak sembarang orang bisa berfatwa dalam urusan fiqih, akan tetapi seseorang itu harus sampai kepada derajat:

١. يعلم شيئا من قضائنا

1. Berpengetahuan mengenai sesuatu daripada ketetapan-ketetapan kami, kata sesuatu ini dijelaskan dalam riwayat berikutnya yaitu:

٢. روى حديثنا ونظر في حلالنا وحرامنا وعرف أحكامنا

2. Periwayat hadits yang نظر terhadap ketetapan-ketetapan para imam dalam urusam halal dan haram, kemudian yang عرف terhadap hukum-hukum yang telah para imam sampaikan.

Kriteria seorang faqih yang layak berfatwa atau menyimpulkan hukum dan alat-alat istinbath dan istidhlal ini di uraikan oleh Syahid Awal dalam kitab Dzikri Syari’ahnya;

يعتبر في الفقيه أمور ثلاثة عشر، قد نبه عليها في مقبول عمر بن حنظلة عن الأمام الصادق (عليه السلام): (انظروا إلى من كان منكم قد روى حديثنا، ونظر في حلالنا وحرامنا، وعرف أحكامنا، فارضوا به حكما فاني قد جعلته عليكم حاكما، فإذا حكم بحكمنا ولم يقبله منه، فإنما بحكم الله استخف، وعلينا رد، وهو راد على الله ، وهو على حد الشرك بالله، فإذا اختلفا فالحكم ما حكم به أعدلهما وأفقههما وأصدقهما في الحديث وأورعهما.

Ada 13 kriteria yang idealnya berada pd diri seorang faqih;,

الأمر الأول: الإيمان،

Kriteria 1. Iman,

الثاني: العدالة

Kriteria 2. ‘Adil,

الثالث: العلم بالكتاب.

Kriteria 3. Berpengetahuan mengenai kitab(Kitab yang dimaksud di sini adalah Al-qur’ an),

الرابع: العلم بالسنة،

Kriteria 4. Berpengetahuan mengenai sunnah (Yaitu hadits-hadits para makshum),

ويكفي منهما ما يحتاج إليه ولو بمراجعة أصل صحيح.

Dalam kedua kriteria di atas cukup berhujjah dengan merujuk ke asal yang shahih (yaitu tahu dan faham juga sadar bahwa sumber yang dirujuk adalah shahih),

الخامس: العلم بالإجماع والخلاف لئلا يفتي بما يخالفه.

Kriteria 5. Berpengetahuan mengenai ijma’ (hal yang disepakati orang berilmu) dan khilaf (hal yang masih ada perselisihan di dalamnya) supaya tidak berfatwa dengan hal yang menyelisihi ijma’.

السادس: العلم بالكلام.

Kriteria 6. Berpengetahuan mengenai al-kalam.

السابع: العلم بالأصول.

Kriteria 7. Berpengetahuan mengenai ushul.

الثامن: العلم باللغة والنحو والصرف وكيفية الاستدلال، وعلى ذلك دل بقوله: (وعرف أحكامنا)، فان معرفتها بدون ذلك محال.

Kriteria 8. Berpengetahuan mengenai lughah dan nahwu dan sharaf dan tata-cara berdalil, dalam hadits di isyaratkan oleh kalimat “wa ‘arafa ahkamana (yg mengenal hukum-hukum kami) …

التاسع: العلم بالناسخ والمنسوخ، والمحكم والمتشابه، والظاهر والمؤول، ونحوها مما يتوقف عليه فهم المعنى والعمل بموجبه، كالمجمل والمبين والعام والخاص.

Kriteria 9. Berpengetahuan mengenai nasikh dan mansukh, dan muhkam dan mutasyabih, dan zhahir dan mu’awwal, dan sejenisnya yang menetapi kepadanya pemahaman makna dan beramal dengan yang wajibnya, seperti mujmal, mubayyan, ‘amm dan khas.

العاشر: العلم بالجرح والتعديل، ويكفي الاعتماد على شهادة الأولين به كما اشتمل عليه كتب الرجال، إذ يتعذر ضبط الجميع مع تطاول الأزمنة. وفي الكافي ومن لا يحضره الفقيه والتهذيب بلاغ واف وبيان شاف، والى ذلك أشار بقوله: (وروى حديثنا)

Kriteria 10. Berpengetahuan mengenai jarh dan ta’dil, dan cukup berpedoman dengan kesaksian dua orang terdahulu seperti apa yang di ulas menyeluruh dalam kitab-kitab rijal. Di isyaratkan oleh kalimat dalam hadits dengan kalimat “wa rawa haditsana” (dan meriwayatkan hadits kami)

الحادي عشر: العلم بمقتضى اللفظ لغة وعرفا وشرعا.

Kriteria 11. Berpengetahuan mengenai muqtadha lafzhu lughah (tema yg di maksud oleh kata dalam bahasa arab) secara urf dan secara syara’.

الثاني عشر: أن يعلم من المخاطب إرادة المقتضى إن تجرد عن القرينة، وإرادة ما دلت عليه القرينة ان وجدت ليثق بخطابه، وهو موقوف على ثبوت الحكمة.

Kriteria 12. Berpengetahuan mengenai mukhatab iradah al-muqtadha ( pembicaraan yang dimaksud dalam tema suatu teks) walau tanpa qarinah (clue tekstual). Dan berpengetahuan dalam iradah yang menunjukkan kepadanya qarinah kalau di ketahuai jelas dengan khitabnya. Dan dialah penempatan kepada peneguhan hikmah.

الثالث عشر: أن يكون حافظا، بمعنى: أنه أغلب عليه من النسيان،

Kriteria 13. Harus seorang hafizh, dengan makna penjagaannya akan ingatan mengalahkan lupanya …

Dari ulasan di atas dapat difahami bahwa siapapun orangnya apapun gelarnya, dan apapun manhajnya, baik itu syi’ah imamiyah ushuli atau syi’ah imamiyah akhbari tidaklah bisa asal comot ayat dan hadits kemudian bisa langsung menyimpulkannya sebagai ini haram atau ini halal, ini wajib atau ini sunnah, ini mubah atau ini makruh. Akan tetapi perlu penguasaan yang mapan terhadap alat-alat istinbath dan istidhlal jika ingin menyimpulkan hukum-hukum.

Allahuma shalli ‘ala Muhammad wa aali Muhammad

 

Note: Koreksi dan opini yang membangun sangat kami apresiasi.


Sumber:

  1. Al-kafi, Al-kulayni, Juz. 7, hlm. 412, hadits no. 4-5.
  2. Al-fawaid Al-madinah wa Asy-syawahid Al-makiyah, Muhammad Aamiin Al-istarabadi, As-sayid Nuruddin Al-‘amili, hlm. 41.
  3. Bayan Al-fiqhi wa al-ijtihad wa at-taqlid, Sayyid Shadiq Asy-syirazi, juz. 1, hlm. 33.
  4. Dzikri Syi’ah Fi Ahkami Syari’ah, Syahid Awal, Juz. 1, hlm. 42-43.
  5. Minhaju As-shalihin, Sayyid Khu’i, juz. 1, hlm. 5.
  6. Minhaju Ash-shalihin, Sayyid Sistani, juz. 1, hlm. 9.
  7. Muntakhab Al-ahkam, Sayyid ‘Ali Khamene’ i, hlm. 9.
  8. Tahrir Al-wasilah, Sayyid Al-khumaini, juz. 1, hlm. 5.
  9. Photo from Pixabay.com
Share the knowledge:
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: