Aqidah Syi’ah

Rukun Iman dan Islam

Agama adalah ilmu dan amal, kemudian islam dan iman itu dua hal yang beriringan. Islam dan iman sebagai dua hal yang beriringan secara umum memiliki 3 (tiga) rukun, yaitu Tauhid, Nubuwah, dan Ma’ad. Maka barangsiapa yang mengingkari salah satu dari ketiganya, dia bukanlah muslim dan bukan pula mukmin. Dan barang siapa yang beriman dengan bertauhid kepada Allah, kenabian Sayyidul Anbiya Muhammad (Shallallahu ‘Alaihi Wa Aalihi), dan beriman kepada hari pembalasan maka dialah muslim.

Mengiringi ketiga rukun umum di atas ada rukun umum keempat, yaitu mengamalkan amalan-amalan utama yang dengan amalan tersebut berdiri bangunan islam, amalan-amalan tersebut ada lima, yaitu, shalat, shaum, zakat, haji, dan jihad.

Dengan memperhatikan ungkapan hadits “Iman adalah bertekad dengan hati, menyatakan dengan lisan, dan mengamalkan dalam perbuatan” dan ungkapan ayat “Barang siapa yang beriman kepada Allah, Rasulnya, dan beramal shaleh…”, maka setiap penjelasan Al-qur’an yang menguraikan keimanan kepada Allah, rasul-Nya, dan hari akhir, maka yang dimaksudkan adalah islam dan iman dengan makna awal. Kemudian setiap penjelasan Al-qur’an yang dalam uraiannya disertai ‘…amal shaleh’, maka yang dimaksudkan adalah islam dan iman dengan makna kedua.

 

Asal Pembagian

Asal dari pembagian tersebut adalah ayat:


قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا ۖ قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَٰكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ ۖ وَإِنْ تُطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَا يَلِتْكُمْ مِنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

 

“Orang-orang Arab Badui berkata, “Kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka), “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah “Kami telah tunduk (Islam),” karena iman belum masuk ke dalam hatimu. Dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun (pahala) amalmu. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS.Al-Hujarāt (49): 14)

Kemudian Allah Ta’ala menambahkan uraian pada firman berikutnya:



إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ



“Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar”. (QS.Al-Hujarāt(49): 15)

Maka itu lah keempat rukun atau pondasi umum dari islam dan iman dengan makna khusus yang ada pada mayoritas umat muslim.

 

Syi’ah Imamiyah

Setelah keempat rukun umum yang telah diuraikan di atas, dalam syi’ah imamiyah ada rukun yang kelima, yaitu berkeyakinan dengan imamah, yaitu berkeyakinan bahwa sesungguhnya sifat dari penegakan imamah itu seperti sifat dari penegakan kenabian. Maka ketika Allah Yang Maha Suci memilih hamba-Nya yang dikehendaki-Nya untuk memikul amanah kenabian dan kerasulan, dan diberikan kepada mereka mukjizat, seperti yang Allah firmankan dalam ayat:

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ ۗ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Dan Tuhanmu menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki. Bagi mereka (manusia) tidak ada pilihan. Mahasuci Allah dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan” . (QS.Al-Qaṣaṣ(28) : 68)

Maka seperti itulah pula Allah memilih orang yang dikehendaki-Nya untuk memikul amanah imamah, Allah memerintahkan nabi-Nya dengan nash atasnya, bahwa keimamahannya bagi manusia adalah tegak sepeninggalannya untuk meneruskan apa yang telah rasulullah tegakkan. Imam tidak mendapatkan wahyu seperti nabi, imam menyampaikan hukum atas petunjuk yang kuat dari Allah. Nabi mengajarkan apa yang difirmankan Allah yang didapatkan melalui wahyu, maka imam mengajarkan apa yang telah rasulullah ajarkan kepada mereka.

 

Dua Belas Imam

Imamah berlangsung secara berkesinambungan kepada dua belas imam, setiap imam yang sebelumnya menashkan keimamahan kepada imam yang selanjutnya. Imam disyaratkan harus makshum dari kesalahan dan kelalaian. Imam harus terpercaya dan mulia, firman Allah Ta’ala:


وَإِذِ ابْتَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا ۖ قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu dia melaksanakannya dengan sempurna. Dia (Allah) berfirman, “Sesungguhnya Aku menjadikan engkau sebagai pemimpin bagi seluruh manusia.” Dia (Ibrahim) berkata, “Dan (juga) dari anak cucuku?” Allah berfirman, “(Benar, tetapi) janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang zalim.” (QS. Al-Baqarah(2) : 124)

Wajibnya ismah bagi imam yang terkandung dalam pemahaman ayat ini akan jelas bagi orang yang mentadaburinya secara mendalam.

Imam haruslah orang yang paling utama dizamannya dalam setiap keutamaan, yang paling berilmu dalam setiap ilmu, karena tujuan dari penegakan imamah adalah untuk penyempurnaan kemanusiaan, pembersihan jiwa, dan pemurnian jiwa dengan ilmu dan amal shaleh.

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

“Dialah yang mengutus seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata”,(QS. Al-Jumu’ah(62) : 2)

Yang kekurangan tidak mungkin bisa menyempurnakan, yang tidak memiliki tidak mungkin bisa memberi. Maka Imam di dalam kesempurnaannya adalah di bawah nabi dan di atas manusia selainnya.

 

Kesimpulan

Barangsiapa yang berkeyakinan kepada imamah dengan makna yang telah diuraikan di atas setelah berkeyakinan atas empat rukun umum iman dan islam yang sebelumnya, maka dia mukmin dengan makna khusus. Dan barangsiapa yang hanya berkeyakinan atas rukun umum iman dan islam yang empat saja tanpa yang kelima, maka dia muslim dan mukmin dengan makna umum. Menetap kepadanya seluruh hukum-hukum islam, haram menumpahkan darahnya, haram mengganggu hartanya, haram mengganggu apa yang dimilikinya, wajib menjaganya, haram mengghibahnya, dan lain-lain.

Tidak berkeyakinan atau tidak meyakini imamah itu tidak mengeluarkan seseorang dari islam.

Di Dunia semua umat muslim berderajat sama, saling melengkapi satu sama lain. Adapun di akhirat itu kembali kepada amalnya masing-masing. Dan hanya Allah lah yang Maha Tahu atas semuanya.


Sumber:

  1. Ashlu syi’ah wa ushuliha, Muhammad Al-hussain Aali Kasyif Al-ghitha’, hlm. 59-62, penerbit: Mu’asasah al-a’mali lil mathbu’at, Beirut-Libanon, cetakan kelima, tahun. 2008 M/1429 H.
  2. Photo under license of Pexels.com

 

Author: Kasyful Ghummah